INSIDENSIAL

Pada tahun 2015, sejumlah bencana alam terjadi di Provinsi Riau dan yang terparah adalah bencana alam karena kebakaran hutan dan lahan yang berdampak pada munculnya kabut asap di seluruh wilayah Provinsi Riau bahkan menyebar ke provinsi dan negara tetangga. Wilayah provinsi yang yang berada di daratan rendah dengan luas lahan gambur sekitar 4,3 juta hektar yang tersebar di delapan kabupaten/kota yang rawan kebakaran menjadi isu utama penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau. Begitu juga dengan cuaca yang ekstrim akibat kurangnya curuah hujan selama musim kemarau. Serta arah angin cenderung kearah barat daya menyebabkan polusi asap lintas batas.

Selain itu, penyebab lain dari bencana kebakaran hutan dan lahan ini ialah luasnya akses lahan terbuka dan kurangnya tenaga pengamanan kehutanan sehingga pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dapat leluasa melakukan pembakaran hutan dan lahan. Masyarakat sebagai pelaku perkebunan memiliki kesadaran yang rendah tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dengan tidak melakukan pembakaran hutan untuk pembukaan lahan. Serta kurang tegasnya penegakan hukum lingkungan terhadap para pelaku perkebunan atau perusahaan yang melanggar aturan pembukaan lahan dan perusakan lingkungan.

Berdasarkan pantauan Satelit NOAA, di seluruh Provinsi Riau terdapat 1.927 titik api (hot spot). Sementara itu berdasarkan pantauan satelit Terra-aqua, terdapat 2.229 titik api. Banyaknya jumlah titik api yang diakibatkan oleh pembakaran hutan dan lahan ini berdampak buruk pada banyak aspek. Dari ekologi atau lingkungan, terjadi banyak kerusakan hutan, hilangnya biodiversity, penurunan kesuburan tanah, pemanasan global, dll.

Image title

Diagram diatas menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan yang terjadi pada akhir tahun 2015 telah merusak 110.025 Ha lahan Gambut dan 57.634 Ha lahan mineral dipantau pada 1 September 15. Berdasarkan pantauan tanggal 28 Oktober 2015, jumlah lahan mineral yang terbakar meningkat hingga 73.268 Ha.

Dari aspek kesehatan, kabut asap hasil pembakaran hutan dan lahan yang menyebar ini mengakibatkan buruknya kualitas udara hingga pada level “berbahaya”. Akibatnya ribuan orang jatuh sakit akibat terserang ISPA bahkan ada yang berujung kematian.

Image title

Diagram diatas menunjukkan selama 4 bulan bencana kabut asap menimpa Provinsi Riau, jumlah korban ISPA terus mengalami peningkatan. Peningkatan tertinggi terjadi pada bulan September 2015, dari 12.311 jiwa menjadi 30.887 jiwa yang berati bahwa pada periode tersebut, kondisi kabut asap merupakan yang terparah. Dari sejumlah korban ISPA diatas, sebanyak 6 orang menjadi korban jiwa, sebagaimana tabel berikut:

Image title