Index Berita

Festival Perahu Baganduang

Politik dan PemerintahanShort url: https://www.riau.go.id/s-2967
Kamis, 01 Jan 1970

Kuantan Mudik - Menyambut Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriyah tahun ini yang jatuh pada Minggu (25/6/2017), sejak malam hingga pagi di Lubuk Jambi, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuansing, Riau berlangsung meriah. Meskipun sempat mencekam, namun inilah yang dinanti-nanti masyarakat menyaksikan hilirnya perahu baganduang pulang dari "Manjopuik Limau" dipagi jelang shalat Ied yang sudah menjadi tradisi masyarakat beberapa desa di Kecamatan Kuantan Mudik.

Kemeriahan pagi Hari Raya Idul Fitri 1438 H tahun ini sangat terlihat sekali di jembatan jalan Nasional Lubuk Jambi, Kecamatan Kuantan Mudik. Sekitar ribuan masyarakat terlihat berkumpul menyaksikan hilirnya perahu baganduang. Adu kekuatan bunyi berbagai petasan dan mercon kembang api tak terhindarkan menambah semarak pagi lebaran di Lubuk Jambi.

"Tahun ini cukup semarak, jumlah perahu baganduang juga bertambah, tentunya ini mengobati hati para perantau yang pulang kampung," ujar Apis menyaksikan kemeriahan pagi lebaran di topian Muko Lobuah desa Banjar Padang, tempat perahu baganduang berhenti.

Manjopuik limau adalah menjemput perempuan yang akan dilamar seorang pria dengan membawa air perasan jeruk yang kemudian air itu dimandikan di tepian sungai setelah pulang dari rumah perempuan. Transportasi yang digunakan untuk ke rumah perempuan tersebut adalah perahu hias yang berlayar ke hulu kuantan sehingga semakin lama perahu hias itu menjadi festival perahu baganduang.

Perahu baganduang merupakan gabungan dari dua hingga tiga buah sampan panjang yang kemudian dihias semenarik dan secantik mungkin. Salah satu perahu yang biasa disandingkan dengan perahu baganduang adalah perahu pertandingan pacu jalur. Hiasan-hiasan yang digunakan adalah bendera, daun kelapa, tanduk kerbau yang melambangkan peternakan, padi yang melambangkan pertanian, buah labu, cermin, lima buah payung yang melambangkan lima rukun iman, kain panjang, foto presiden dan wakil presiden, payung kuning, dan bermacam-macam buah serta pernak-pernik tambahan lainnya yang mempercantik perahu. Sama halnya dengan tradisi pacu jalur, festival perahu baganduang dilaksanakan sekali dalam setahun. Bedanya, jika pacu jalur dilaksanakan untuk menyemarakkan hari kemerdekaan Indonesia, perahu baganduang dilaksanakan untuk menyemarakkan hari raya Idul Fitri.

Perahu Bagandung pertama kali digelar sebagai festival pada tahun 1996. Perahu Baganduang adalah kendaraan adat yang digunakan untuk prosesi Majompuik Limau. Terdiri dari gabungan tiga buah jalur yang dirangkai menjadi satu (diganduang) dengan menggunakan bambu. Perahu ini dihiasi dengan berbagai simbol adat yang berwarna-warni, yang dinamakan gulang-gulang.

Perahu Baganduang ini merupakan tradisi dan aset budaya serta pariwisata Kabupaten Kuansing yang harus terus dilestarikan.


sumber : Hallo Riau dan Trip Riau


Web : http://pariwisata.riau.go.id