close× Telp +62 761 45505
close×

Mengintip Kebun Durian Pusaka Di Desa Senderak Bengkalis

Jum'at, 24 Jun 2022 | 187 kali dilihat

BENGKALIS - Bulan Juni ini adalah waktu tepat bagi penikmat buah durian untuk menyambangi Desa Senderak, Kabupaten Bengkalis, Riau. Pasalnya, musim panen durian telah tiba di desa yang berbatasan langsung dengan negara jiran Malaysia itu.

Durian memang banyak diminati sejumlah kalangan. Populer disebut sebagai King of Fruit alias raja dari segala buah.  Sehingga buah ini dijuluki “Raja Buah” di Asia Tenggara.

Buah yang memiliki nama latin durio zibethinus ini tumbuh subur di Desa Senderak. Kulit buahnya keras, menyerupai duri, dan berlekuk-lekuk runcing. Cita rasa manis legit tak perlu diragukan, bisa ambyar di lidah yang mencicipi.

Durian Pusako Desa Senderak Bengkalis (Foto Heru Maindikali) 

Berdasarkan data pemerintah setempat, Desa Senderak merupakan pemekaran dari Desa Sebauk pada tahun 2012 lalu. Total jumlah penduduk Desa Senderak pada tahun 2018 lalu sebanyak 667 jiwa. Di desa ini, pohon durian tumbuh subur di pekarangan rumah dan juga tumbuh di perkebunan keluarga.

Mayoritas kebun durian di desa ini merupakan kebun pusako atau pusaka. Warisan sejak ratusan tahun lalu dari leluhur atau nenek moyang warga desa setempat.

Boby Faisal alias Pak Lung petani durian Desa Senderak, Bengkalis, Riau (Foto Heru Maindikali) 

Seorang warga desa setempat, Boby Faisal (48) menuturkan, umur pohon durian di kebun pusako Desa Senderak bisa mencapai 50 tahun, bahkan 100 tahun lebih.

"Durian pusako ini warisan dari datuk nenek moyang kami. Sejak kami belum lahir pohon durian pusako ini sudah ado (ada, red)," kata Boby, lelaki paruh baya yang akrab disapa Pak Lung, Jumat (24/6/2022). 

Pak Lung memiliki kebun durian yang luasnya hampir mencapai 4 hektare. Ukuran batang pohon durian pusako di kebunnya bisa mencapai 3 pelukan orang dewasa.

"Umurnya bervariasi, mulai dari 20 tahun sampai 100 tahun lebih. Di kebun kami jumlahnya ada 40 pohon durian," jelasnya.

Pak Lung memegang pohon durian pusako berusia lebih dari 100 tahun (Foto Heru Maindikali) 

Dituturkan dia, bahwa setiap satu tahun sekali pada bulan Juni, adalah momen panen durian di Desa Senderak. Jumlah durian yang dipanen bisa mencapai puluhan ribu buah durian.

"Jumlahnya bisa mencapai puluhan ribu buah durian. Hasilnya kami jual di kota Bengkalis, bahkan sampai Kota Pekanbaru, Dumai, dan Batam," ujarnya.

Pak Lung merawat pohon durian tanpa menggunakan pupuk kimia. Sehingga, aroma dan cita rasa buah durian yang dihasilkan mampu memanjakan para pemburunya.

"Kalau lagi banjir [panen], satu pohon durian pusako bisa mencapai 500 buah. Untuk hasil buah dari satu kebun ini bisa mencapai 5.000 buah durian. Tapi kalau panennya tak maksimal hanya mencapai 80 buah durian," ungkap Pak Lung.

Pohon durian pusako Pak Lung di Desa Senderak (Foto Heru Maindikali) 

Dijelaskan Pak Lung, harga satu buah durian ukuran besar ia jual Rp.40.000, ukuran sedang Rp.30.000, dan ukuran kecil Rp.20.000.

Namun, imbuh Pak Lung, panen durian tahun ini tidak begitu banyak apabila dibandingkan tahun sebelumnya. Hal itu akibat faktor alam, menjadi penyebab rontoknya bunga durian.

"Tahun ini hasil penenya tak banyak. Banyak bunga durian yang rontok. Mungkin akibat cuaca buruk atau faktor alam lainnya," ungkap Pak Lung.

Durian Desa Senderak (Foto Heru Maindikali) 

Kendati begitu, kebun durian pusako yang ia rawat tetap menghasilkan buah durian yang berkualitas dan masih didatangi sejumlah pembeli dari Kota Bengkalis dan luar kota yakni Pekanbaru. 

Warga Kota Pekanbaru, Novriansyah (35) mangaku sangat suka dengan cita rasa durian di desa itu. Menurutnya rasa manis bercampur sedikit pahit menjadi khas dan menggugah selera untuk mencicipi durian itu. 

"Rasanya sangat puas bisa menikmati durian di sini. Saya datang dari Pekanbaru khusus untuk mencicipi durian ini. Tadi beli 10 buah, alhamdulillah setelah dicoba rasanya tak ada yang meleset. Enak semuanya," tandas Novriansyah.

(Mediacenter Riau/MC Riau)