SUMBER DAYA ALAM

Sumber Daya Alam Provinsi Riau merupakan salah satu potensi unggulan yang dimiliki oleh Provinsi Riau yang meliputi pertanahan, pertambangan, pertanian/ perkebunan, kehutanan, kelautan/perikanan, dan industri/ jasa.

Energi dan Sumber Daya Alam

Sektor energi dan sumber daya mineral merupakan salah satu sektor yang berperan besar dalam pembangunan daerah Provinsi. Yang menjadi komoditas unggulan dalam sektor energi dan sumber daya mineral di Provinsi Riau antara lain kelistrikan dan pertambangan.

Listrik merupakan komoditas penting bagi kehidupan manusia pada saat ini. Tanpa adanya energi listrik, hampir dipastikan banyak sektor pembanguna akan lumpuh. Sebagian besar energi listrik di Provinsi Riau masih dipasok oleh Perusahaan Umum Listrik Negara.

Image title

Dari tahun 2013 hingga 2015, kapasitas listrik yang dihasilkan sebesar 114 Kva/Kwh pada PLTA, 94,6 Kva/Kwh pada PLTD dan 131,2 Kva/Kwh pada PLTG. Jumlah kapasitas listrik ini tidak meningkat maupun menyusut begitu pula pada jumlah unit pembangkit listrik. Di seluruh Provinsi Riau terdapat 1 unit pembangkit listrik PLTA, 65 unit pembangkit listrik PLTD dan 6 unit pembangkit listrik PLTG.

Pertanian

Sektor pertanian juga merupakan salah satu faktor yang berperan dalam perkembangan perekonomian Riau. Produksi komoditas utama pertanian adalah padi,  jagung dan kedelai. Selain itu hasil pertanian lainnya yang merupakan komoditas Provinsi Riau adalah kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu dan ubi jalar.

Image title

Pada tahun 2015, produksi padi di Riau mencapai 393.917 ton gabah kering giling (GKG). Produksi tersebut terhitung mengalami kenaikan sebesar 2,2 persen jika dibandingkan produksi di tahun 2014. Kenaikan produksi ini dipengaruhi oleh kenaikan yang terjadi pada luas areal panen sebesar 107.546 hektar yang meningkat sekitar 1.509 hektar (1,42%) dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, produktivitas padi juga meningkat sekitar 0,26 kuintal/hektar atau sekitar 0,71 %.

Image title

Sementara itu peningkatan terjadi pada produksi jagung yaitu sebesar 30.870 ton pipilan kering, produksi ini meningkat sekitar 7,75 persen atau 2.219 ton pipilan kering. Peningkatan ini dapat dipengaruhi karena adanya kenaikan luas areal produksi jagung sebesar 368 hektar lahan (3,1%) dibandingkan dengan areal produksi tahun 2014 sebesar 12.057 hektar. Peningkatan juga terjadi pada produktivitas jagung pada tahun 2015 sebesar 1.09 kuintal/hektar dari tahun 2014 atau sekitar 4,59 %.

Image title

Produksi kedelai juga mengalami penurunan pada tahun 2015 sebesar 187 ton biji kering (8,02%) dari produksi kedelai pada tahun 2014. Penurunan produksi ini dipengaruhi oleh luas panen yang sebesar 1.516 hektar menurun sekitar 514 hektar (25,32%). Akan tetapi produktivitas kedelai meningkat sebesar 2,66 kuintal/hektar atau 23,15% dibandingkan tahun sebelumnya.

Image title

Pada tahun 2015, Produksi kacang tanah lebih rendah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Hasil produksi ini turun sebesar 8,39 persen dibanding tahun 2014 dan 16,65 persen dibanding tahun 2013. Penurunan produksi ini dipengaruhi oleh semakin menurunnya luas areal pertanian kacang tanah dibanding tahun 2013 dan 2014 masing-masing 18,41 persen dan 9,23 persen.

Image title

Pada tahun 2015, Produksi kacang hijau lebih rendah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Hasil produksi ini turun sebesar 7,28 persen dibanding tahun 2014 dan 3.39 persen dibanding tahun 2013. Penurunan produksi ini dipengaruhi oleh menurunnya luas areal pertanian kacang hijau dibanding tahun 2013 dan 2014 masing-masing 1,53 persen dan 3,67 persen.

Image title

Selain itu, produksi ubi kayu juga menglaami penurunan pada tahun 2015 sebesar 11,89 persen dibanding tahun 2014. Sebenarnya, produksi ubi kayu ini sempat meningkat pada tahun 2014 sebesar 14,08 persen. Penurunan produksi ini juga dipengaruhi oleh menurunnya luas areal pertanian ubi kayu sebesar 11,61 dibanding tahun 2014. 

Image title

Dalam 3 tahun terakhir, Produksi ubi jalar tahun 2015 adalah yang terendah. Hasil produksi ini turun sebesar 5,36 persen pada tahun 2014 dan kembali turun sebesar 18,05 persen.  Seperti sebelumnya, penurunan produksi ini juga dipengaruhi oleh semakin menurunnya luas areal pertanian ubi jalar sebesar 4,96 persen pada tahun 2014 dan 18,83 persen pada tahun 2015. 

Perikanan

Salah satu komoditas unggulan provinsi Riau adalah komoditas dari sektor perikanan. Kondisi geografis Provinsi Riau dimana 17,40% dari total luas wilayahnya merupakan daerah lautan serta terdapat 15 sungai menjadikan sektor perikanan berkembang dengan baik. Selain itu masih luasnya lahan yang belum termanfaatkan merupakan potensi besar untuk budidaya perikanan darat untuk berkembang. Selain itu, permintaan pasar terhadap produk perikanan semakin meningkat menjadikan sektor penagkapan saja tidak cukup sehingga kegiatan budidaya ikan seperti keramba, kolam, perikanan umum dan tambak berkembang dengan baik.

Produksi perikanan Provinsi Riau sebagian besar berasal dari perikanan laut. Pada tahun 2015, data meunjukkan bahwa hasil tangkapan perikanan laut sebesar 106.233,1 ton atau menurun  1 persen dari tahun sebelumnya. Selain itu, jumlah rumah tangga perikanan menurun hingga 14.610 KK atau meningkat 0,98 persen. Selan itu, terjadi juga penurunan pada jumlah kapal penangkap ikan sebanyak 123 unit.

Image title

Industri pengolahan hasil perikanan darat dapat dibagi dalam empat jenis yaitu karamba, kolam, perikanan umum dan tambak. Pada tahun 2015, produksi ikan karamba adalah 5.378,56 ton atau menurun sebesar 82,52 persen. Penurunan ini disebabkan oleh menurunnya jumlah karamba yaitu sebanyak 157.638 unit. Hasil produksi ikan pada perikanan umum juga mengalami penurunan sebesar 3,9 persen akibat menurunnya jumlah rumah tangga perikanan sebanyak 123 RTP.

Image title

Produksi kolam ikan mengalami peningkatan sebesar 5.425,2 ton atau sebesar 10,8 persen. Data sementara pada produksi tambak ikan menunjukkan penurunan yang drastis sebesar 82,23 persen meskipun jumlah tambak ikan bertambah seluas 89,15 Ha dibandingkan tahun 2014.

Peternakan

Seiring dengan meningingkatnya kebutuhan konsumsi masyarakat akan produk hewan ternak, baik dari segi konsumsi daging hewan ternak maupun produk ternak lain, seperti susu dan telur, maka pemerintah Provinsi Riau melalui Dinas Pertanian dan Peternakan terus berusaha memenuhi kebutuhan tersebut. Selain itu terkait dengan komitmen provinsi Riau untuk meningkatkan swasembada pangan pada 2020, jumlah populasi hewan ternah terus ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. Hal ini tercermin dari adanya peningkatan pada beberapa aspek peternakan di Provinsi Riau dalam 3 tahun terakhir.

Image title

Diagram diatas menunjukkan adanya peningkatan pada jumlah populasi ternak kecil dalam 3 tahun terakhir. Populasi kambing merupakan jumlah populasi ternak kecil tertinggi dan meningkat 6,86 persen pada tahun 2014 dan 7,88 persen pada tahun 2015. Selain itu, polpulasi ternak babi dan domba juga terus meningkat hingga tahun 2015.

Image title

Diagram diatas menunjukkan produksi daging babi merupakan komoditas ternak kecil tertinggi di Provinsi Riau. Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi daging babi cukup tinggi dibanding hewan ternak kecil lainnya. Selain itu, produksi ketiga jenis hean ternak kecil diatas juga meningkat selam 3 tahun terakhir. Dapat dilihat bahwa, produksi daging babi meningkat sebesar 4,6 persen pada tahun 2015; diikuti oleh produksi daging kambing sebesar 4,59 persen dan produksi daging domba sebesar 2,98 persen.

Image title

Tabel diatas menunjukkan bahwa produksi susu sapi di Provinsi Riau pada tahun 2015 mengalami sedikit peningkatan dibandingkan tahun 2014, sebesar 4,15 persen. Jumlah produksi ini jauh lebih rendah dibandingkan jumlah produksi susu sapi tahun 2013 yang mencapai 150.822 Kg pertahun. Rendahnya produksi susu sapi ini memang dipangaruhi oleh beberapa faktor, antara lain menurunnya populasi sapi perah di Provinsi Riau, 46,24 persen pada tahun 2014 dan hanya sedikit meningkat 4,19 persen pada tahun 2015; selain itu dilihat susu sapi juga bukan merupakan komoditas unggulan Provinsi Riau sehingga populasi sapi perah pun cukup rendah jika dibandingkan Provinsi lain yang menjadikan susu sebagai komoditas unggulannya.

Akan tetapi, Produksi daging sapi cukup tinggi dan semakin meningkat hingga tahun 2015.  Pada tahun 2014 terjadi peningkatan produksi daging sapi sebesar 9,53 persen; pada tahun 2015 juga meningkat sebesar 4,74 persen. Peningkatan ini dipengaruhi oleh meningkatnya populasi sapi potong serta meningkatnya potongan sapi pertahun sebagaimana tabel diatas. Selain itu, yang menjadi hal yang utama dalam meningkatnya produksi daging sapi di Provinsi Riau adalah tingginya tingkat konsumsi dan permintaan daging sapi.

Image title

Dalam 3 tahun terakhir, produksi daging ayam pedaging terus mengalami pertumbuhan yang positif sebesar rata-rata lebih dari 2 persen pada tahun 2014 dan 2015. Selain itu, produksi daging ayam buras juga meningkat pada tahun 2014 dan 2015 masing-masing sebesar 22,46 persen dan 3,93 persen.

Image title

Meningkatnya produksi daging ayam pedaging dan ayam buras dipengaruhi oleh tingginya populasi ayam pedaging dan ayam buras. Populasi ayam pedaging teruz meningkat sebagaimana diagram diatas begitu juga pada popuasi ayam buruas. Tingginya permintaan ayam pedaging dan ayam buras juga turut mempengarui tingginya produksi kedua komoditas tersebut.

Image title

Dilihat dari produksi teur unggas, terjadi peningatan yang signifikan pada produksi telur ayam pada tahun 2015. Diagram diatas menunjukkan peningkatan produksi daging ayam pada tahun 2014 sebesar 18,79 persen dan pada tahun 2015 sebesar 28,56 persen. Akan tetapi pada produksi telur itik, terjadi kontraksi yang cukup dalam pada thaun 2014 yaitu sebesar 54,01 persen. Pada tahun 2015, produksi telur itik sedikit meningkat sebesar 1,42 persen.  

Image title

Peningkatan yang terjadi pada produksi telur ayam dipengaruhi oleh meningkatnya populasi ayam petelur. Sebagaimana diagram diatas, terjadi peningkatan populasi ayam petelur pada tahun  2015 sebesar 9,08 persen. Begitu pula pada populasi itik pada tahun 2014 juga mempengaruhi turunnya produksi telur itik tahun 2014 yang mencapai 54,02 persen.